Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), salah satu prinsip moral yang paling sering didengungkan adalah "Berani karena benar, takut karena salah." Slogan ini bukan sekadar kalimat penambah semangat saat latihan, melainkan petunjuk arah hidup bagi setiap warga yang mengemban ajaran Ke-SH-an. Bahkan, tidak sedikit warga yang memegang teguh komitmen ini hingga pada tataran ekstrem: berani membela kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Namun, di tengah dinamika zaman dan godaan ego manusia, sudahkah kita benar-benar memahami apa itu "kebenaran" yang layak kita bela mati-matian?
1. Akar Filosofis dan Sejarah Keberanian Kesatria
Prinsip keberanian dalam PSHT tidak lahir dari ruang hampa. Secara historis, ajaran ini ditempa oleh perjuangan pendiri organisasi, Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Di masa penjajahan, keberanian fisik dan mental dibutuhkan untuk melawan penindasan. Keberanian tersebut lahir karena satu landasan moral yang kuat: rakyat Indonesia berada di pihak yang benar untuk merebut kemerdekaannya.
Secara spiritual dan tradisi Jawa, keberanian sejati selalu bersumber dari keteguhan hati nurani yang bersandar pada nilai-nilai keutamaan Tuhan. Rasa takut saat melakukan kesalahan bukanlah tanda pengecut, melainkan bentuk kesadaran diri (eling) dan rasa malu (sikap tulus) agar tidak terjerumus dalam kehancuran moral. Keberanian yang tidak didasari oleh kebenaran sejati hanyalah bentuk keangkuhan dan kesombongan otot semata.
2. Ujian Terbesar: Benar atau Sekadar Fanatisme?
Keberanian membela kebenaran sampai titik darah penghabisan adalah sikap yang mulia. Namun, di sinilah letak ujian terberat bagi seorang warga PSHT. Dalam perjalanan hidup bermasyarakat, sering kali garis batas antara kebenaran hakiki dan prasangka pribadi menjadi sangat kabur.
Sebelum kita melangkah ke medan laga untuk membela sesuatu, ajaran Ke-SH-an menuntut kita untuk melakukan ngaji batin atau introspeksi mendalam. Pertanyakanlah hal ini pada diri sendiri:
"Apakah selama ini apa yang kita bela mati-matian adalah hal yang benar-benar adil dan sesuai hati nurani, atau jangan-jangan kita hanya dibutakan oleh nafsu, amarah, dan fanatisme semata?"
Ketika seseorang terjebak dalam fanatisme buta, ia akan merasa bahwa kelompoknya, pendapatnya, atau tindakannya selalu benar—meskipun jelas-jelas merugikan orang lain atau melanggar moralitas. Di titik ini, ia bukan lagi sedang membela kebenaran Tuhan, melainkan sedang memuaskan ego dan hawa nafsunya sendiri yang dibungkus dengan simbol-simbol kebenaran.
3. Kembali ke Esensi Setia Hati
Esensi utama dari kata Setia Hati adalah menjadikan hati nurani yang bersih sebagai penuntun tertinggi dalam bertindak. Hati nurani yang jujur tidak bisa dibohongi oleh gengsi, ego kelompok, atau amarah sesaat.
Jika kita mengaku sebagai manusia yang berbudi luhur dan tahu benar serta salah, maka kita harus memiliki kebesaran hati untuk:
Berani mengakui kesalahan jika memang langkah atau pemikiran kita keliru.
Berani meredam amarah dan ego ketika mendapati bahwa apa yang kita bela ternyata hanyalah emosi sesaat.
Tetap berdiri tegak membela kebenaran untuk melindungi yang lemah dan menjaga ketenteraman masyarakat (Memayu Hayuning Bawono), bukan untuk memicu perpecahan.
Penutup
Membela kebenaran sampai titik darah penghabisan adalah janji seorang kesatria. Namun, memastikan bahwa apa yang kita bela adalah kebenaran yang sejati—bukan fanatisme yang membabi buta—adalah puncak tertinggi dari kematangan jiwa seorang warga PSHT.
Mari kita terus mawas diri. Jangan sampai atas nama "membela kebenaran", kita justru sedang merusak nilai-nilai luhur yang telah dititipkan oleh para leluhur. Sudahkah niat dan langkah kita hari ini murni berdiri di atas kebenaran hati nurani?


0 Komentar